Jenis-Jenis Kalimat (1) : Sentence Classified by Types


Saat kita belajar rumus-rumus tenses, mungkin kita sangat mengenal dengan perintah guru yang menyuruh muridnya untuk mengubah kalimat menjadi kalimat positif, negative dan pertanyaan baik itu saat ulangan harian, ulangan umum ataupun untuk PR. Akan tetapi, istilah-istilah tersebut ternyata tidak terdaftar alias tidak menjadi salah satu bagian jenis kalimat, kecuali kalimat pertanyaan saja yang masuk kategori jenis kalimat Questions. Mengapa demikian, mungkin, menurut saya, karena kalimat negatif dan kalimat positif sudah termasuk menjadi satu bagian yaitu ‘statement’, sehingga keberadaannya tidak dimasukkan dalam jenis-jenis kalimat. Kalimat (dalam Bahasa Inggris disebut Sentence, hehe kaya anak kecil aja ya dikasih tahu), menurut Frank (1972:220-221), dibagi menjadi dua bagian yaitu menurut jenisnya dan menurut jumlah predikatnya. Nah, kali ini saya akan mengutipkan penjelasan Frank tersebut yaitu tentang pembagian kalimat menurut jenisnya terlebih dahulu (padahal sih lagi males ngetik hehe)

Kalimat Menurut Jenisnya : (Classification of Sentences by Types)

1.   Declarative Sentences (Statements)

In a declarative sentence the subject and predicate have normal word order. The sentence ends with a period in writing and a drop in pitch in speech.
Dalam kalimat ungkapan, subyek dan predikat tetap pada susunan kata yang normal, yaitu:

Kalimat ungkapan/pernyataan ini diakhiri dengan tanda titik (.) dalam penulisannya dan nada rendah dalam pengucapannya.

Contoh:

The child ate his dinner

2.   Interrogative Sentences (Questions)

In an interrogative sentence, the subject and auxiliary are often reversed.  The sentence ends with a question mark (or an interrogation point) in writing. In a spoken language, most yes-no questions end with a rise in pitch, most interrogative-word questions end with a fall in pitch.

Dalam kalimat pertanyaan, subyek dan auxiliary verb-nya sering dibalik, yaitu:
Kalimat pertanyaan ini diakhiri dengan tanda tanya dalam penulisannya. Dalam pengucapannya, kebanyakan yes-no questions diakhiri dengan nada tinggi, sedang pada kebanyakan kalimat tanya yang lain diakhiri dengan nada paling rendah.

Contoh:

Did the child eat his dinner?

3.   Imperative Sentences (Commands, Requests)

In an imperative sentence, only the predicate is expressed, the simple form of the verb is used, regardless of person or tense. The imperative sentence ends with a period in writing and drop in pitch in speech.

Dalam kalimat perintah, hanya predikat saja yang diugunakan, yaitu bentuk sederhana kata kerjanya. Kalimat perintah diakhiri dengan titik (.) dalam penulisannya dan nada rendah dalam pengucapannya.

Contoh: 

Eat your dinner

4.  Exclamatory Sentences (Exclamations)

Such sentence begins with an exclamatory phrase consisting of what or how plus a part of the predicate. The exclamatory phrase is followed by subject and the balance of the predicate.

Kalimat seruan diawali dengan frase seruan yang berupa kata what dan how ditambah satu bagian predikat. Frase seruan diikuti dengan subject dan predikat yang imbang.

Contoh: 

What a great performance.

Pusing? Sama ya, saya juga pusing hehe. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat jenis-jenis kalimat diatas pada tabel berikut ini:

Types of Sentences
Contoh
Statements
Jane is reading a book
Questions
What is Jane reading?
Commands or Requests
Read this book
Exclamations
How beautiful she is.

Begitulah kira-kira klasifikasi kalimat menurut jenisnya. Jika masih diberi kesempatan, nanti akan diberi penjelasan serta contoh-contohnya agar lebih bisa dipahami. Thanks a lot..

Referensi:

Frank, Marcella. 1972. Modern English; A Practical Reference Guide. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

[Read more...]

Contact Us

For any questions or requests, please contact us at : english.indo@yahoo.co.id
[Read more...]

Sentence: Pendahuluan

Belajar Grammar tak akan pernah jauh-jauh dengan istilah yang populer dengan nama ‘sentence’. Ya, ingat SENTENCE. Harus diakui pembahasan mengenai ‘sentence’ hampir selalu dimunculkan dalam buku-buku Grammar. Karena jika tidak, tentu buku grammar yang tidak mencantumkan ‘sentence’ di dalamnya akan dicap sebagai buku Grammar murahan (kata saya hehe). Oleh karena itu, dalam postingan kali ini seperti biasa saya akan memberikan kutipan-kutipan penting tentang pembahasan sentence yang diungkapkan oleh Frank (1972:220-223) di buku edisi pertamanya. Tak perlu khawatir, meskipun buku yang saya kutipkan ini adalah terbitan edisi pertama, namun buku Grammar karya Marcella Frank yang berjudul Modern English: A Practical Reference Guide ini adalah salah satu buku Grammar terbaik saat ini. ( Mungkin itu adalah referensi pertama yang dijadikan acuan utama saya saat membahas masalah Grammar, kalau sudah punya duit semoga saya bisa beli yang edisi keduanya hehe). Oke langsung saja, berikut penjelasan ringkas dan semoga saja jelas.

Definisi ‘Sentence’ 

Menurut Frank (1972:220), ada dua cara mendefinisikan sentence dalam teori grammar terdahulu:

1.   By Meaning

According to this definition, a sentence is a ‘complete thought’. Such definition is inadequate, however, because of the vagueness of the term ‘complete thought’. By seeing and hearing a statement, how do we know it is a ‘thought’, and what makes it ‘complete’?

Menurut maknanya, definisi kalimat adalah sebuah ide, konsep, pikiran yang sempurna. Akan tetapi menurut Frank, definisi ini tidak cukup karena kejanggalan istilah ‘complete thought’. Dengan melihat dan mendengar penjelasan tadi, bagaimana kita tahu kalimat adalah sebuah pikiran?, dan apa yang membuatnya sempurna?

2.   By Function

According to this definition, a sentence consists of a subject and a predicate. This definition is more satisfactory because it is actually possible to identify the structural functions of subject and predicate in a sentence.

Sementara itu, definsi kalimat menurut fungsinya menyebutkan bahwa kalimat terdiri dari subyek dan predikat. Menurut Frank, definisi ini lebih memuaskan karena mengidentifikasi fungsi struktur subyek dan predikat dalam sebuah kalimat sangatlah mungkin terjadi.

Dengan menggabungkan karakteristik formal dan fungsional sebuah kalimat, Frank mendefinisikan kalimat sebagai berikut:

“A sentence is a full predication containing a subject plus a predicate with a finite verb.”

Kalimat adalah sebuah susunan lengkap yang terdiri dari subject dan predikat yang berupa finite verb.

Keterangan: (Bahan Perdebatan)

Nah kan? Disitu kalimat harus terdiri dari subyek. Untuk mempermudah pemahaman tentang subyek, bisa sobat lihat di posting tentang jenis-jenis subyek.

Selain itu, sebuah kalimat harus memiliki a finite verb. Apa sih finite verb? Kok baru denger, hehe ketahuan deh, untuk mempermudah pemahaman tentang finite verb, alangkah baiknya kita jelaskan bahwa inti finite verb adalah bukan auxiliary verb. Dengan kata lain finite verb sama dengan ordinary verb dan bukan kata kerja bantu (auxiliary)

Contoh:

Kalimat yang benar

Sally is sleeping.

Kalimat yang salah

Sally is.
Cukup belum definisinya kira-kira? semoga saja cukup, karena pembahasan sentence nantinya akan sangat memusingkan kepala (itu kalo lagi sakit kepala hoho) Piss.



Referensi:

Frank, Marcella. 1972. Modern English; A Practical Reference Guide. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
[Read more...]

Ilmu Yang Kita Peroleh Saat Mengetahui Sebuah Kata

“What do we know when we know a word?” Begitulah pertanyaan yang pertama muncul saat Akmadjian dkk  akan menjelaskan informasi yang dapat kita peroleh saat mempelajari sebuah kata. Menurut mereka, saat kita mempelajari sebuah kata, banyak sekali informasi (ilmu) yang didapat. Andai saja kita mau berpikir tentang rahasia dibalik 'satu kata', wajar jika kita menjawab macam-macam karena memang 'satu kat' bisa saja mengubah sepi menjadi ramai, gelap menjadi terang dan lain sebagainya. Coba bayangkan saja jika kita mengenal istilah blogger, banyak sekali informasi yang bisa kita peroleh yang selanjutnya bisa kita bagikan Cuma dengan satu inti kata yaitu blogger. Nah jika disangkut pautkan dengan Morphology Bahasa Inggris, informasi apa saja sih, atau bisa dibilang ilmu apa sih yang dapat kita peroleh saat tahu satu kata? Oke, berikut adalah informasi yang akan kita peroleh saat kita mempelajari ‘a word’ yang diungkapkan Akamdjian dkk (2001:12-13):

1.   Phonetic / Phonological information.
 
For every word we know, we have learned a pronunciation-. Part of knowing- the word tree is knowing certain sounds—more precisely, a certain sequence of sounds. Phonetics and phonology are the subfields of linguistics that study the structure and  systematic patterning of sounds in human language.

Untuk setiap kata yang kita tahu, kita secara tidak langsung  juga mempelajari cara pelafalannya. Phonetik dan phonology adalah bagian dari linguistic yang membahas struktur dan pola sistematis tentang bunyi dalam bahasa manusia.

2.   Lexical structure information. 

For every word we have learned, we intuitively know something about its internal structure. For example, our intuitions tell us that the word tree cannot be broken down into any meaningful parts. In contrast, the word trees seems to be made up of two parts: the word tree plus an additional element, -s (known as the "'plural" ending). Morphology is the subfield of linguistics that studies the internal structure of words and the relationships amongs words

Untuk setiap kata yang kita pelajari, secara tidak langsung kita tahu apa yang ada dalam struktur internal kata tersebut. Contohnya, kata tree tidak bisa dipisah menjadi beberapa bagian. Sebaliknya, kata trees sepertinya dapat kita buat menjadi dua bagian yaitu kata tree dan elemen tambahan s (yang dikenal sebagai akhiran jamak dalam bahasa Inggris). Morphology adalah sub bidang dalam linguistic yang membahas masalah struktur internal kata dan hubungan kata-kata tersebut.

3.   Syntactic information.

For every word we learn, we leam how it fits into the overall structure of sentences in which, it can be used. For example, we know that the word reads can be used in a sentence like Mark reads the book., and the word readable (related to the word read) can be- used in a sentence like The book is readable. We may not know that read is called a verb or that readable is called an adjective; but we intuitively know, as native speakers, how to use those words in different kinds of sentences. Syntax is the subfield of linguistics that studies the internal structure of sentences and the relationships among ihe internal parts.

Untuk setiap kata yang kita pelajari, secara tidak langsung juga kita telah mempelajari bagaimana kata tersebut dapat dijadikan kalimat lengkap. Sebagai contoh, kita tahu bahwa kata reads dapat digunakan dalam kalimat seperti Mark reads the book, dan kita juga tahu bahwa kata readable (kata yang berhubungan dengan read) dapat digunaka dalam kalimat seperti the book is readable. Kita mungkin tahu bahwa read adalah kata kerja dan readable adalah adjective; tapi sebagai penutur bahasa asli, kita seharusnya tahu bagaimana menggunakan kata-kata tersebut dalam sebuah kalimat dalam berbagai jenis kalimat yang ada. Syntax adalah sub bidang linguistik yang membahas masalah susunan internal kalimat dan hubungannya dengan bagian internal yang lain.

4.   Semantic information.

For virtually every word we know, we have learned a meaning or several meanings. For example, to know the word brother is to know that it has a certain meaning (the equivalent of "male sibling"). In addition, we may or may not know certain extended meanings of the word, as in John is so friendly and helpful, he's a regular brother to me. Semantics is the subfield of linguistics that studies the nature of the meaning of individual words, and the meaning of words grouped into phrases and sentences.

Untuk setiap kata yang kita ketahui, kita telah mempelajari maknanya atau beberapa makna didalamnya. Contoh, untuk mengetahui kata brother berarti kita telah mempelajari makna tertentu (seperti padanan kata ‘saudara laki-laki sekandung’). Semantic adalah sub bidang linguistik yang membahas masalah makna individual kata dan makna yang terkandung dalam frase atau kalimat.

5.   Pragmatic information.

For every word we leam, we know not only its meaning or meanings but also how to use it in the context of discourse or conversation. For instance, the word brother can be used not only to refer to a male sibling but also as a conversational exclamation, as in "Oh brother! What a mess!" In some cases, words seem to have a use but no meaning as such. For example, the word hello is used to greet, but it seems to have no meaning beyond that particular use. Pragmatics is the subfield of linguistics that studies the use of words (and phrases and sentences) in the actual context of discourse.

Untuk setiap kata yang kita pelajari, kita tidak hanya tahu maknanya secara umum tapi juga kita tahu bagaimana menggunakannya dalam konteks wacana dan obrolan. Sebagai contoh, kata brother tidak hanya berarti (saudara laki-laki sekandung) saja, tapi juga dalam beberapa kasus seperti kalimat seruan seperti, oh brother! What a mess! Kadang ada tulisannya/omongannya tapi tidak ada maknanya sama sekali. Pragmatik adalah sub bidang ilmu linguistik yang membahas masalah penggunaan kata (frase dan juga kalimat) dalam konteks wacana yang sebenarnya.

Sekian, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika saya menerjemahkan sesederhana mungkin, maksudnya biar tidak terlalu formal. Thanks a lot.

Referensi:

Akmadian, Adrian [et al]. 2001. Linguistics: An Introduction to Language and Communication, 5th ed. London: The MIT Press.
Page 12-13
[Read more...]

Cara Memahami Subject Kalimat

Dalam ‘Sentence Structure’ Bahasa Inggris, subject adalah hal pertama yang harus kita kenali, meskipun sebenarnya banyak yang harus kita pelajari. Pokoknya, mau atau tidak mau anda jika mau menguasai susunan kalimat Bahasa Inggris, maka anda harus mau mempelajari subject. Ringkas saja, tak perlu panjang lebar ini dia jenis-jenis subject yang harus anda kenali:

1.   Noun

Apapun jenisnya, noun semuanya bisa menjadi subject. Dari proper noun hingga collective noun semuanya bisa diterapkan sebagai subject kalimat. Jangan ragu-ragu, karena memang salah satu fungsi noun memang sebagai subject.

2.  Noun Phrase

Jika dibandingkan dengan noun, noun phrase sebenarnya lebih populer keberadaannya dalam susunan kalimat Bahasa Inggris. Namun intinya sama saja, noun phrase jelas bisa sebagai subject.

3.  Noun Clause

Meskipun penggunaannya tidak sebanyak noun dan noun phrase, noun clause sebenarnya sangat bisa menjadi subject. Namun, konon katanya ia lebih cocok sebagai object. Tapi tak usah bimbang, menggunakan noun clause sebagai subject menambah nilai kita bahwa kita bisa Grammar dengan baik.

4.  Pronoun

Tidak jauh beda dengan noun, karena memang pronoun lebih dikenal sebagai pengganti noun, maka sudah tidak asing lagi jika pronoun menjadi subject sebuah kalimat. Namun ada beberapa jenis pronoun yang kurang wajar dijadikan subject, seperti reflexive pronoun dan reciprocal pronoun.

5.  Gerund

Gerund (kata kerja yang dibendakan, katanya) sangat jelas mengandung makna noun sehingga wajar jika gerund mampu dijadikan sebagai subject.

6.  Gerund Phrase

Gerund phrase, sebagai keluarga besar bapak Gerund, harusnya mewarisi kekayaan yang dimiliki keluarganya (tuh kan nglantur). Maksudnya, karena Gerund phrase bertumpu pada Gerund maka tak perlu aneh jika gerund dijadikan sebagai subject.

7.  To Infinitive

Apa tuh to infinitive, pokoknya kalau ada to terus diikuti kata kerja murni (bare infinitive) maka itu yang dinamakan to infinitive. Meskipun umumnya to infinitive difungsikan sebagai object atau complement, namun tidak salah jika to infinitive dijadikan sebagai subject.

8.  To Infinitive Phrase

Seperti halnya hubungan antara gerund dan gerund phrase, to infinitve phrase juga berfungsi sebagai subject, tidak jauh beda dengan orang tuanya, si to infinitive phrase.

Untuk mempermudah pemahaman tentang jenis-jenis subject diatas, mari kita langsung saja lihat tabel berikut ini:

Jenis Subject
Contoh
Noun
Ani always goes to school every morning
Noun phrase
The famous mosque in Jakarta is Istiqlal
Noun clause
That Istiqlal is the famous mosque in Jakarta is true
Pronoun
She always goes to school every morning
Gerund
Eating is his hobby
Gerund phrase
Eating bakso is his hobby
To infinitive
To eat is his hobby
To Infinitive Phrase
To eat bakso is his hobby

Nb: 

To infinitive dan To infinitive Phrase dalam hal ini mempunyai makna yang sama dengan Gerund atau Gerund phrase. Dalam penggunaannya, kadang ada yang menghilangkan kata to –nya, meskipun intensitasnya tidak begitu banyak dan bahkan jarang sekali.

Sekian saja, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di buku-buku Grammar yang baik atau di Kamus monolingual berbahasa Inggris. Atau boleh didiskusikan disini. Thanks a lot….
[Read more...]

When Life Leaves Us Blind: Pesan dari Linkin Park

Beberapa bulan yang lalu adik saya sering mendengarkan lagu yang satu ini, setiap membuka laptop selalu saja yang diputar lagu ini dari pagi hingga malam tak pernah berubah. Bahkan di laptop ini juga ternyata sudah ada lirik lagunya yang sepertinya dapat dari internet. Saking sering ikutan denger lagu ini, saya jadi ikut-ikutan suka. Lumayan dan serta nyaman didenger, apalagi saat ngantuk (Maklum Cuma ada suara vocalist serta guitar akustik dan piano saja). Ya, lagu berjudul “The Messenger”  ini dibawakan oleh Linkin Park di Album terbaru mereka yang bertajuk A Thousand Sun. Seperti biasa, jangan terlalu lama, mari kita belajar mengetahui pesan yang terkandung dalam lirik lagu “The Messenger” ini serta berbagai analisanya. Kita mulai dengan Melihat teks asli Lirik Lagu “The Messenger” berikut ini:



Lyrics | Linkin Park lyrics - The Messenger lyrics


Grammatical Analyses:

The Messenger
First Stanza
When you feel you’re alone
Cut off from this cruel world


Your instincts telling you to run



Listen to your heart

Those angel’s voices



They’ll say to you
they’ll be all good back home

Chorus
When life leaves us blind
Love keeps us kind

It keeps us kind

Second Stanza
When you suffered enough
And your spirit is breaking


You’re growing desperate from the fight
Remember you’re loved
And you always will be
This melody will bring you light back home

When life leaves us blind
Love keeps us kind



:
:


:



:

:



:



:
:

:


:
:


:

:
:
:


:

Bait Pertama
Sub Clause: Adverbial clause of time
Sub clause: Adverbial clause of time, reducing conjunction ‘when’ and its subject
Sub Clause: omitting conjunction
‘when’ dan auxiliary verb ‘are’, seharusnya Your instincts are telling you to run
Main clause: Imperative Sentence/Command
Main clause: Imperative Sentence/Command: Menghilangkan Listen to, seharusnya Listen to those angel’s voices.
Statement: Simple Future
Object of Verb Say

Chorus
Sub Clause: Adverbial Clause of time
Main Clause: Simple Present General Truth
Sentence Emphasis

Bait Kedua
Sub clause: Adverbial clause of time
Sama seperti diatas, omitting conjunction ‘when’ menambahkan coordinative conjunction and.
Sub clause: Adverbial clause of time, omitting ‘when’
Main Clause: Imperative sentence
Sejajar seperti diatas
Statement: Simple Future


Sub clause: Adverbial clause of time
Main clause: Simple Present General truth (maybe)


Ada yang menganggap bahwa lagu tersebut ditujukan untuk anak-anak yang ditinggal oleh orang tuanya. Namun, menafsirkan lagu bisa bermacam-macam maknanya. Menurut saya inti dari lagu tersebut adalah, “Meski dunia ini penuh dengan kekejaman, kebencian dan lain-lain, kita tak perlu sedih karena cinta pada hakikatnya membuat kita tetap berbuat baik tanpa merasa kita dalam kepedihan, maka dengan itu semoga kita tidak dibutakan oleh kehidupan yang serba menyeramkan ini. Lirik lagu diatas sengaja tidak saya analisa tentang vocabulary-nya, karena saya yakin, sobat-sobit pasti sangat mengerti makna kosakatanya, simple dan tidak neko-neko.

Namun yang pasti, sangat rugi jika sobat-sobit tak pernah mendengarkan lagu ini,  that's great…




[Read more...]

Verb “Do”: Hanya Pembantu

Setelah sebelumnya saya mencoba memperkenalkan dua kepribadian “Do” baik sebagai majikan ataupun sebagai pembantu, sekarang saya akan mencoba menawarkan “Do” hanya sebagai pembantu saja (hoho, makin mirip sinetron!!), maksudnya “Do sebagai auxiliary verb”. Tapi jangan salah, meskipun hanya sebatas sebagai pembantu, menaklukkan “Do” yang satu ini ternyata mudah-mudah tapi sedikit sulit juga. Kadang ia ada di depan, mendahului subject tanpa diketahui menggunakan kendaraan, kadang-kadang ia juga menyamar sebagai orang lain, atau kadang pokoknya bermacam-macam deh. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat klasifikasi “Do” sebagai pembantu itu apa saja sih? Biar nanti saat melihatnya sobat-sobit tidak perlu tertegun pun tercengang dengan keindahannya, ups. Langsung saja, jika melihat Dua buku yang saya gunakan sebagai referensi, kedua-duanya sepakat bahwa Cuma ada lima kategori “Do” sebagai pembantu (ups, maksudnya auxiliary verb), berikut saya ringkaskan klasifikasinya:

1.   Questions

We use do make questions with ordinary verbs, but not with other auxiliary verbs.

Bandingkan kalimat dibawah ini:

Do you like football? (BUKAN Like you football?)
Can you play football? (BUKAN Do you can play football?)

2.   Negatives

We use do to make negative clauses or sentences with ordinary verbs, but not with other auxiliary verbs.

Bandingkan kalimat dibawah ini:

I don’t like Football. (BUKAN I like not football. Atau I not like football)
I can’t play football. (BUKAN I don’t can play football)

3.   Emphasis

We can use do in an affirmative clauses or sentences for emotive or contrastive emphasis.

Contoh:

Do sit down.
You do look nice today!
She thinks I don’t love her, but I do love her.

4.  Inversion

Do is used in some inversion (verb before subject) structures.

Contoh:

At no time did he lose his self-control

5.   Ellipsis

In cases where an auxiliary is used instead of a whole verb phrase, do is common in affirmative clauses as well as questions and negatives.

Contoh:

She doesn’t like dancing, but I do. (=….. but I like dancing)
Ann thinks there’s something wrong with Bill, so do I.
You saw Alan, didn’t you?
“That meat smells funny,” “Yes, it does, doesn’t it?”

Mungkin begitu saja ciri-ciri “Do” sebagai pembantu, jika ada yang melihat ciri-ciri tersebut silahkan laporkan kepada pihak berwajib (hehe jadi becanda), maksudnya jika ada salah-salah penulisan ataupun keterangannya mohon dikoreksi. Oke broth and sist
[Read more...]

Jenis-Jenis Terjemahan (Bagian 5)

Setelah sebelumnya kita telah membahas mengenai tujuan terjemahan yang diungkapkan oleh Newmark, sekarang mari kita menelusuri jenis-jenis terjemahan berdasarkan tujuan terjemahan yang diterangkan oleh Brislin (1976:3-4). Jenis-jenis terjemahan ini juga diterangkan dalam Choliludin (2007:26-29) Brislin mengkategorikan terjemahan menjadi empat jenis. Berikut keempat jenis-jenis terjemahan yang  diungkapkannya tersebut:

a.   Pragmatic Translation

It refers to the translation of the message with an interest in accuracy of the information that was meant to be conveyed in the source language form and it is not concerned with other aspects of the original language version. The clearest example of pragmatic translation is the translation of the information about repairing a machine.

Terjemahan pragmatik mengacu pada pesan yang akurat terhadap informasi yang diungkapkan dalam bentuk bahasa sumber dan tidak meliputi aspek lain dari bahasa aslinya. Contoh paling jelas terjemahan pragmatik adalah terjemahan mengenai informasi perbaikan mesin.

b.   Aesthetic-poetic Translation

This refers to translation in which the translator takes into account the affect, emotion, and feeling of an original agnate version, the aesthetic form used by the original author, as well as any information in the message. The examples of this type are the translation of sonnet, rhyme, heroic couplet, dramatic dialogue, and novel.

Terjemahan aestetik-puitis mengacu pada hasrat, emosi dan perasaan bahasa sumber, yaitu bentuk aestetik yang diungkapkan oleh pengarangnya. Contoh terjemahan ini seperti terjemahan sonnet, puisi, drama, novel dan karya sastra lainnya.

c.   Ethnographic Translation

The purpose of ethnographic translation is to explicate the culture context of the source and TL versions. Translators have to be sensitive to the way words are used and must know how the words fit into culture.

Tujuan terjemahan etnografis ini adalah untuk menjelaskan konteks budaya dari bahasa sumber dan bahasa sasaran. Penerjemah harus peka terhadap cara kata disusun dan ia juga harus tahu bagaimana kata-kata tersebut sesuai dengan sebuah budaya.

d.   Linguistic Translation

This is concerned with equivalent meanings of the constituent morphemes of the source language and grammatical form, an example is language in a computer program and machine translation.

Terjemahan linguistiK ini mengacu pada padanan makna dari komponen morphem bahasa sumber dan bentuk gramatikalnya, contoh: bahasa dalam program komputer dan terjemahan mesin.

Mohon maaf, saya bukan penerjemah professional yang dibayar dengan sepantasnya. Namun saya hanya memberikan referensi bahasa Inggris tentang translation ini seadanya. Oleh karena itu saya terjemahkan seenaknya, yang penting nyambung bukan? Jika akan dijadikan referensi Silahkan terjemahkan dengan mengacu pada metode terjemahan yang baik menurut para ahli. Thanks a lot…

Referensi:

Brislin, R.W. 1976. Translation: Application and Research. New York: Garden Press, Inc.

Choliludin. 2007. The Technique of Making Idiomatic Translation. Jakarta: Visipro.
[Read more...]